Hingar Bingar Tahun Ini

retoris, rhetoric, pixabay, politik
Rhetorical Speech

Sometimes, I want to not care about what other’s do and what other’s think as long as they don’t interfere me. Apparently, this act is not wise at all. 

Perspektif yang berbeda muncul beriringan dengan bertambahnya informasi. Seharusnya, dengan bertambahnya informasi (dan ilmu pengetahuan baru), pola pikir kita menjadi lebih bijak dalam menyikapi masalah, bukannya menjadi paranoid, apalagi memiliki fanatisme buta. 
Celakanya, generasi milenial macam saya ini menerima arus informasi yang begitu deras. Belum tuntas memahami satu informasi, sudah muncul lagi hal viral lainnya. Sigh.

Politically Correct

Disclaimer: Saya awam politik dan tidak mendukung sesuatu partai. Entah kenapa saya menulis heading ini.

my own brain

Di bidang politik, tahun ini dimulai dengan pertanyaan besar dari media mainstream: Siapa bersaing dengan siapa dalam pemilu presiden 2019? Jawabannya terkuak pada pertengahan bulan Agustus 2018 lalu. Well, Pak Jokowi berduet dengan Pak Ma’ruf Amin akan bersaing dengan Pak Prabowo yang berduet dengan Sandiaga Uno. 

Hell, it’s kinda funny to listen to people started to debate this guy has support from that guy and that other guy is actually a close friend with another guy. Obrolan di warung kopi dan warteg kadang-kadang menjadi meriah karena tak hanya bapak-bapak dengan “latar pendidikan formal yang tinggi” saja yang bicara, tapi juga bapak-bapak yang mungkin lebih sering berada di jalanan. Jadi penasaran apa yang dibicarakan tetanggaku di kampung selain urusan padi atau kedelai atau kangkung yang harganya tak pernah berpihak pada petani.

Beda informasi, beda kepentingan, beda perspektif. Sebagai seorang yang cuma menguping saja, tak lain yang ada di benakku adalah mengumpat! Damn. These guys actually listen to the news and reading stuff. What did I do all these times?

Mungkin akan lebih mudah buatku untuk mengatakan situasi ini “Politically Correct”. Secara politik memang betul dan harus seperti ini. Di kota-propinsi ini, orang harus memiliki wawasan tentang apa yang terjadi disekitar. Berbeda dengan masa ketika aku masih berkubang di lumpur sawah dan tinggal di kampung. Selain saat itu aku masih ingusan dan tidak tahu apa-apa, bagi kami kebijakan politik apapun hanya memberikan dampak yang sangat kecil pada aktifitas sehari-hari warga desa.

Imbas Makroekonomi

Disclaimer: I remember one day while in the first year of college life, my friend said “Makroekonomi angel, cuk!“. Saat malam-malam ia sedang mengerjakan tugas makalah.

my brain: don’t even start about it!

Suatu hari di hari yang tidak begitu cerah, aku sedang bersantai dan iseng membaca berita-berita kebijakan negara lain. Misal yang paling jelas, Amerika. Pak Donald Trump memang sejak awal dalam kampanye “Let’s make America great again. We will build a wall”.

Tiga tahun setelah Pak Donald Trump menjabat sebagai presiden Amerika, beberapa kebijakan politiknya membuat geger dunia. Terutama tentang kebijakan pajak impor, yang baru-baru ini bergesekan keras dengan China. Wew, China, I admire you in many ways. Karena ternyata banyak juga komoditas negeri Tirai Bambu ini yang di ekspor ke USA.

Kebijakan lainnya yang tak kalah menarik dari Donald Trump adalah penolakan pengungsi dari Syria dan Reformasi Pajak. Hell, I hope I understand this. Pusing kepala orang awam ini.

Hingga kini aku masih terus bertaya-tanya mengapa beberapa orang khawatir dengan kebijakan Pak Trump ini. Walah… Ternyata kebanyakan negara di bumi ini melihat situasi politik negara Paman Sam itu lebih spesial dibandingkan dengan kebijakan negara lainnya. Terlebih saat The Fed (sebuah institusi “independen” di Amrik sono) menyatakan akan menaikkan bunga mereka sebanyak 4 kali dalam tahun 2018 ini. Berdasarkan situs ini, kebijakan ini diperlukan untuk mengatur inflasi dan meningkatkan daya tarik investor supaya menaruh uang mereka di USA. Tentu saja, Dollar pada pulang dan efeknya lumayan kerasa bagi negara-negara lain. Termasuk Indonesia.

What?

Tentu saja, dalam postingan ini, aku sebenarnya tidak begitu paham mengenai keadaan Ekonomi Indonesia saat ini. Bahkan, aku tidak paham keterkaitan antara Politically Correct dengan Makroekonomi. Kecuali harapan bahwa situasi Politik Indonesia di tengah gempuran tantangan perubahan struktur ekonomi global akibat Revolusi Industri 4.0 serta tantangan faktor eksternal seperti kebijakan Amerika, dan yang paling penting adalah keadaan ekonomi fundamental Indonesia yang memerlukan banyak optimalisasi. 

Sebagai orang yang awam terhadap ekonomi dan politik, hal-hal ini menarik perhatianku dan dalam upaya memahami, aku berharap semuanya akan baik-baik saja.

Share:

Leave a Comment